Caleg PBB Dapil 4 Kabupaten Bogor, Diansyah Putra: “1 Suara Sangat Berharga”

ADA yang bilang, partai kecil tidak akan masuk treshold 4%, dan hanya ada lima partai besar paling banyak yang semuanya incumbent. Hebat sekali, sebelum pemilu sudah bisa memprediksi? Apakah mereka orang sakti, paranormal atau dukun? Lantas suara partai kecil akan masuk ke partai besar, kenapa bisa? Di sini terlihat, banyak manusia yang sudah mendahului Allah.

Padahal perjalanan nasib tidak akan pernah ada yang tahu, dan semua partai mempunyai peluang sama yang penentuannya akan terlihat pada 17 April 2019 mendatang. Hal ini diungkapkan Caleg PBB No. Urut 2, Perwakilan Dapil 4 Kabupaten Bogor, Diansyah Putra Gumay di kediamannya baru-baru ini menanggapi banyaknya prediksi dan ramalan-ramalan para pengamat politik.

“Kenapa kita tidak berubah? Karena partai partai besar tidak dapat berbuat banyak dan semua terjebak dalam memilih caleg yang itu-itu saja. Mereka kerjanya hanya datang saat menjelang pemilu, setelah duduk menghilang. Untuk itu pilih partai kecil pilih caleg yang berani dan mempunyai visi misi yang jelas. Jangan juga pilih caleg gagal, pilih caleg yang sanggup memperjuangkan nasib masyarakat baik ekonomi, hukum dan HAM,” ungkap Gumay yang juga Ketua Umum Tatar Sunda dan LSM Gemantara Raya.

Gumay juga mengingatkan, sebagai rakyat kita jangan mudah  tergoda dengan uang amplop yang isinya hanya 20 sampai 100 ribu, tetapi nasib kita terkatung-katung untuk 5 tahun ke depan. Kalau caleg lain tidak sanggup pakai kesepakatan, maka dirinya sanggup dan bersedia memakai materai, kertas segel bahkan ke notaris bila jadi dan sanggup memenuhi keinginan masyarakat yang semuanya menyangkut kepentingan masyarakat. “Intinya, saya siap memperjuangkan aspirasi masyarakat,” tandasnya.

Menurut Gumay, seorang anggota dewan terpilih sangat tolol dan bodoh jika tidak sanggup memenuhi aspirasi masyarakat yang diwakilkannya. “Bila masyarakat terbentur masalah pembangunan jalan, musholah, rumah ibadah, sekolah dan masdrasah, air Bersih, pendidikan  dan sarana kesehatan atau perlindungan hukum tetapi dia tidak bisa memenuhi, maka makzulkan saja,” tegasnya.

 

Kunci Kemenangan

Lebih lanjut dikatakan, kunci kemenangan dalam hal ini adalah SIAPA yang MENGAJAK. Orang belum tentu mengenal abah Gumay atau Diansyah Putra Caleg PBB No. urut 2. “Tetapi jika yang mengajak adalah keluarganya, Insya Allah mereka lebih mantap dan memilih kita. Wilayah Dapil 4 sangat Luas, keliling desa sendiri saja sampai menit ini belum kelar, apalagi 71 desa di 6 kecamatan, karena terbatas waktu dan tempat. Tapi dengan adanya saudara/I, saya di Dapil 4 Insya Allah bisa menjadi penyambung lidah supaya bisa membawa aspirasi dari Perwakilan Tatar Sunda,” paparnya.

Lantas bagaimana jika pemilih tidak bisa memberikan hak suaranya karena beda dapil? Bukankah mereka punya sahabat, saudara, teman SD/SMP/SMU yang berada di Dapil 4, bisa diberikan masukan dan diyakinkan bahwa seorang Diansyah Putra bisa menjadi wakil penyambung aspirasi masyarakat.

“Untuk ini atas nama pribadi dan lembaga kami mengharapkan dengan keikhlasannya saudara/i sekalian berperan aktif mengarahkan pada 17 April 2019 nanti. Biarkan mereka beda pilihan presiden, biarkan beda DPR RI, beda partai, tapi tolong yang dilihat seorang Abah Gumay dan saudara/i yang mengajak dan di belakang Abah Gumay dalam lingkungan lembaga adat Tatar Sunda, wadah bersama dalam keadaan suka dan duka, yang bukan sekedar bicara, tapi sudah menjalankan, tinggal melanjutkan saja,” ungkapnya.

Atas perjuangan tanpa riswah dan mengharapkan imbalan ini, Gumay juga berjanji jika terpilih, masyarakat pemilih yang nantinya mengalami  kesulitan, baik urusan hukum, rumah, leasing, pendidikan atau lainnya bisa saling bantu dalam lembaga adat Tatar Sunda yang dikomandoinya. “Insya Allah ada solusi,” ujarnya.

Sementara, menanggapi terbatasnya APK (Alat Peraga Kampanye) dalam pencalonannya, Ketua Lembaga Adat Tatar Sunda ini menegaskan, jika ada yang bertanya masalah spanduk, banner dan APK lainnya, seorang Diansyah Putra memang tidak membuat.

“Hanya kartu nama, itupun disumbang anggota lembaga. Apalagi siraman bagi amplop dan sembako seperti orang-orang. Kita hanya siapkan saksi di setiap TPS lengkap di 71 desa Dapil 4, sedang dibentuk, Insya Allah H-7 selesai dimandatkan. Semoga kekurangan ini dapat menjadi kelebihan bagi kita semua,” ungkapnya.

Adapun untuk masalah gagal duduk sebagai anggota legislatif mewakili masyarakat, bagi Diansyah Putra perjuangannya untuk rakyat tetap berlanjut. Hanya yang jadi ukuran, cepat lambat dan keterbatasan kemampuan saja. “Bagi seorang Diansyah Putra, jangankan 10 suara, 1 suara saja sangat berharga. Salam hormat, salam santun persaudaraan Lembaga Adat Tatar Sunda,” kata Diansyah mengakhiri. ED-Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *