Gunakan Rangka Baja dan Kusen Mutu Rendah, Bangunan Toilet SDN Ini Terindikasi Bakal Bermasalah

DANA Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan yang selanjutnya disebut DAK Fisik Bidang Pendidikan adalah dana yang dialokasikan dalam anggaran pendapatan belanja negara kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk mendanai kebutuhan sarana dan prasarana bidang pendidikan yang merupakan urusan daerah.

Pemerintah Pusat menggelontorkan bantuan dana APBN ini dalam rangka untuk meningkatkan mutu sekolah melalui DAK yang digunakan untuk rehab sedang/berat serta membangun ruang kelas baru (RKB). Di antaranya pembangunan jamban/toilet (WC) beserta sanitasinya. Salah satunya pada Sekolah Dasar di Kabupaten OKU, Sumatera Selatan, SD Negeri 77 Desa Tanjung Lengkayap, Kecamatan Lengkiti.

Dari hasil penelusuran MBN di lapangan, pembangunan toilet satu atap untuk pria dan wanita pada SDN 77 Tanjung Lengkayap yang dianggarkan Rp. 95 juta lebih menggunakan dana DAK tahun anggaran 2019 tampaknya bakal bermasalah, karena dinilai memiliki mutu rendah, dan terindikasi ada penyimpangan volume atau mark up harga.

Sebagian bahan material yang digunakan pada bangunan yang baru berdiri sekitar sudah 75 persen ini, diduga tidak sama dengan yang tercantum dalam RAB. Karena seharusnya, setiap bangunan yang menggunakan dana dari Pemerintah Pusat biasanya bahan material yang digunakan harus memilik mutu tinggi dengan kualitas nomor 1 agar bangunan tersebut bisa bertahan lama.

Namun berbeda pada bangunan toilet SDN 77 Desa Tanjung Lengkayap. Tampak beberapa bahan yang digunakan pihak pengelola diduga memiliki kualitas mutu rendah. Seperti halnya reng dan besi rangka baja ringan yang sudah terpasang pada bagian atap bangunan tidak memiliki kualitas Standar Nasional Indonesia (SNI), hanya beberapa batang saja yang berkualitas SNI dengan merk Taso, itupun bekas sisa bangunan yang lama sengaja dibuat menonjol ke bagian luar

Belum lagi ditambah dengan kayu kusen yang gunakan pihak sekolah, diduga juga bukan kualitas nomor 1. Sebab dari warna dan jenis kayu yang terpasang sudah dipastikan mudah rapuh dan bukan kayu kualitas tinggi. Jika benar demikian, hal ini tentunya bertentangan dengan Permendikbud Nomor 8 tahun 2018 tentang Petunjuk Operasional Dana Alokasi Khusus Fisik Bidang Pendidikan, halaman 14 dan 15.

Dalam Permendikbud tersebut menjelaskan tentang jenis bahan bangunan, di antaranya struktur untuk kayu sedianya menggunakan kayu mutu A (lurus, tidak memiliki cacat kayu, seperti mata kayu, retak dan sebagainya). Sementara untuk besi rangka baja ringan harus terbuat dari mutu tinggi sebagai dasar kekuatan struktur, dilapisi bahan tahan karat dan diproduksi dengan mesin khusus tingkat presisi yang tinggi serta yang paling penting bersertifikat SNI dan bergaransi minimal 10 tahun untuk produk baja ringan terpasang.

“Kami bekerja sudah sesuai dengan RAB, lagi pula sudah saya tanyakan ke Dinas Pendidikan OKU melalui Kasi Sarana dan Prasarana. Katanya semuanya sudah sesuai RAB. Rangka baja ringan yang kami pasang juga sudah SNI semua, meski semua bukan merk Taso. Tapi itu ada kok yang merk Taso sisa dari bangunan yang lama,” kilah Warta Yuneli, Kepala SD Negeri 77 kepada MBN di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Sementara, Iskandar selaku Kasi Kelembagaan dan Sarana Prasarana Dinas Pendidikan OKU ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya, Jum’at (4/10/19) membantah jika besi rangka baja dan reng yang dipasang pihak SDN 77 merupakan mutu rendah. Walaupun sudah jelas fakta di lapangan menunjukan hampir sebagian rangka baja ringan termasuk reng yang terpasang tanpa memiliki tulisan SNI.

“Semuanya sudah sesuai Permendikbud yang baru Nomor 1 tahun 2019, bukan tahun 2018. Di situ (Permendikbud tahun 2019 – red) sudah jelas bahwa untuk atap tidak ditetapkan harus menggunakan bahan apa. Cuma kalau untuk SD 77 Tanjung Lengkayap menggunakan rangka baja ringan,” bantah Iskandar.

Begitupun atap sengnya, kata Iskandar, menggunakan Multiroff yang tidak berlapis pasir itu tidak apa. Karena tergantung biaya dan tergantung wilayah juga. “Yang jelas semuanya tergantung dana, kalau dana tidak cukup mereka bisa menggunakan rangka kayu, tidak meski rangka baja ringan. Juga tidak meski sesuai RAB, RAB itu bisa mengikuti dana yang ada,” ujarnya. Yaman – OKU

Cybertroop Polri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Tertibkan Kendaraan, Satlantas Polres Kubar Gelar Razia Gabungan

Sel Okt 8 , 2019
DANA Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan yang selanjutnya disebut DAK Fisik Bidang Pendidikan adalah dana yang dialokasikan dalam anggaran pendapatan belanja negara kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk mendanai kebutuhan sarana dan prasarana bidang pendidikan yang merupakan urusan daerah. Pemerintah Pusat menggelontorkan bantuan dana APBN ini dalam rangka untuk meningkatkan […]