Penegakan Hukum di Jalan Raya, PMJ Terapkan Sistem ETLE

Tidaklah dipungkiri Jakarta sebagai central Ibukota setiap tahunnya mengalami lompatan yang sangat pesat, seperti perkembangan ekonomi dan teknologi yang semakin canggih..

Meski begitu perubahan yang kian pesat tidak lah diikuti perkembangan pertumbuhan jalan, ditambah lagi tingkat displin lalu lintas pengguna jalan cenderung mengalami kemunduran. Akibatnya kemacetan dan kecelakaan yang semakin tinggi dan berimbas pada kerugian materi dan korban jiwa yang terus naik.

Sementara fakta lapangan rasio Polisi lalu lintas dan jumlah pengendara di wilayah hukum Polda Metro Jaya (PMJ) tidaklah sebanding.

Lalu faktor penindakan hukum pun dengan cara konvesional seperti tilang ditempat tidak lagi efektif. Merujuk dengan kenyataan itu, Ditlantas PMJ terus berupaya memberikan pelayanan yang maksimal dengan membuat terobosan yang jitu yang salah satunya menurunkan tingkat kecelakaan yang tinggi dengan memakan korban jiwa baik yang meninggal dunia dan luka-luka (ringan dan berat) diupaya menurun.

Apalagi kian getolnya masyarakat menuntut kinerja para aparat penegak hukum lalu lintas (lalin) yang cepat, efektif, efisien, transparan dan akuntable serta modern.

Karena itu penegakkan hukum secara eletronik menjadi sebuah keharusan untuk diterapkan.

Guna menjawab permasalahan lalin di Ibukota ini, Kapolda Metro Jakarta bersama Kadishub DKI ,Pengamat Transportasi , Dewan Pakar Transportasi,dan Dirlantas PMJ berserta jajarannya mengadakan Coffee Morning membahas tentang ETLE(elektronik traffic law enforcement) dan Sosialisasi.

Kapolda Metro Jakarta Irjen Gatot Eddy Pramono dalam kesempatan nya mengatakan, awal keberadaan CCTV dan penerapan ETLE di DKI Jakarta.

“Dalam Rangka sosialisasi ETLE yang dibentuk pada awal bulan November 2018 . Awal nya dua titik Thamrin dan Sudirman, Kemudian di kembangkan menjadi 12 titik , dan rencana nya akan ditambah 81 titik lagi untuk mengetahui pelanggaran dan penegakan hukum” ujar Gatot Eddy kepada wartawan di Gedung Ditlantas PMJ Jumat ,(02/08/2019).

Gatot menjelaskan untuk meminimalisir angka kecelakaan yang meningkat dan kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas membuat pihaknya berkerjasama dengan Dishub DKI untuk pengembangan penambahan Kamera CCTV .

“Menurut data yang di dapat angka kecelakaan di DKI Jakarta mencapai 5.773 kejadian korban meninggal 558 orang dan luka sebanyak 856 di tahun 2018.ini karena kurang nya kesadaran dari masyarakat dalam berkendara, untuk itu kami mensosialisasikan program ETLE bersama Dishub DKI agar masyarakat sadar dan Patuh” ujar nya.

Lebih lanjut Gatot Eddy mengajak kepada masyarakat agar tertib Berkendara. “Dalam mewujudkan keselamatan ketertiban dan kelancaran lalu lintas , penegakan hukum secara elektronik menjadi keharusan guna menjawab permasalahan lalulintas di ibukota Jakarta,”pungkanya.

Apalagi,katanya dalam menyambut revolusi industri 4,0 moderenisasi sistem penegakan hukum di bidang lalu lintas ETLE menjadi langkah awal pengembangan Smartcity yang di mulai dari jalan raya.

“Perintah dari Bapak Kapolri program Prometer , meningkatkan pelayanan Publik berbasis teknologi informasi serta penegakan hukum yang lebih profesional dan berkeadilan maka ETLE menjadi kontribusi yang nyata,”ujar Gatot.

Diterangkannya bahwa fitur tambahan perangkat CCTV untuk memantau Lebih jelas. “Kamera CCTV yang baru ini memiliki fitur yang lebih canggih hingga bisa melihat di dalam mobil , untuk melihat pelanggaran pengguna handphone, seat belt dan ganjil genap juga dapat tertangkap kamera,”jelas nya.

Diketahui sebelumnya sistem ETLE ini memiliki berbasis teknologi berupa kamera ANPR ( Automatic Number Plate Recognition) yang dapat mendeteksi tanda nomor kendaraan bermotor secara otomatis ,dan merekam, menyimpan bukti Pelanggaran .

“Sistem ETLE yang baru ini dilengkapi kamera ANPR sehingga para pelanggar dapat terekam secara otomatis, dan data tersebut tercatat di server RTMC kemudian data tersebut di olah petugas Subdit Gakum ,selanjutnya petugas mengirimkan surat tilang elektronik kepada pelanggar sesuai alamatnya,” katanya lagi.

Pelanggar diberikan waktu 7 hari untuk membayar tilang setelah tilang elektronik di berikan jika tidak dibayarkan petugas akan memblokir STNK kendaraan tersebut.

Diketahui sebelumnya image Polisi selalu di pandang sebagai tukang tilang oleh masyarakat,

“Selama ini kita mendapatkan image sebagai tukang tilang ,karena itu harapan melalui ETLE ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tertib Berkendara sebagai perubahan budaya dan prilaku masyarakat, otomatis akan menghapus interaksi petugas dengan pelanggar” ucap Gatot.

Dengan adanya ETLE Kapolda mengharapkan tidak ada lagi adanya petugas melakukan pungli di jalan raya.

“Dengan demikian maka tidak ada lagi celah potensi terjadinya pungli maupun suap yang dilakukan oknum yang merusak citra kepolisian,” Gatot menandaskan.

Pada kesempatan yang sama, Syafrin Liputo Kadishub DKI Jakarta dalam kesempatan nya mengatakan dukungannya terhadap penuh program kepolisian dalam Smartcity dan Penegakan hukum ETLE.

Diharapakan dengan implementasi penegakkan hukum secara teknologi modern, perubahan perilaku dari yang tidak disiplin menjadi disiplin.

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Jum'at Berkah Satpas SIM 1221 Berikan Nasi Bungkus

Jum Agu 2 , 2019
Tidaklah dipungkiri Jakarta sebagai central Ibukota setiap tahunnya mengalami lompatan yang sangat pesat, seperti perkembangan ekonomi dan teknologi yang semakin canggih.. Meski begitu perubahan yang kian pesat tidak lah diikuti perkembangan pertumbuhan jalan, ditambah lagi tingkat displin lalu lintas pengguna jalan cenderung mengalami kemunduran. Akibatnya kemacetan dan kecelakaan yang semakin […]