PMJ Berhasil Bongkar Kasus Penipuan CPNS

Subdit I Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya berhasil bongkar kasus penipuan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tersangka HB yang kerap dipanggil ‘pak bos’ di dunia malam, diduga meraup keuntungan sebesar Rp 5,7 miliar dari korbannya sejak 2010.

“Uanga hasil dari tipunya dihabiskan buat dugem ( dunia gemerlap) di wilayah Mangga Besar,” ujar Kabid Humas Kombes Pol. Argo Yuwono, Di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (13/8/2019).

Argo membeberkan, jumlah korban yang di tipunya sebanyak 99 orang yang berasal dari luar daerah dan Jakarta. Dengan uang yang diperoleh per orang sekitar Rp 70 juta hingga Rp 100 juta

“Jumlah korban yang tertipu sekitar 99 orang menyerahkan uang Rp 70 – Rp 100 juta, dijanjikan lolos dari seleksi CPNS,” kata Argo Yuwono.

Untuk memuluskan aksinya, HB berpura pura sebagai pegawai di sekretariat dan selalu berpenampilan rapi dengan mengenakan tanda pengenal sebagai pegawai Kemendikbud dengan identitas Drs H. Ia juga melengkapi dengan dokumen Badan Kepegawaian Negara (BKN), Kemenpan dan RB, dan bisa membuatkan SK penempatan CPNS.

Lokasi HB mendapatkan korban di TMII dan Graha Cijantung (tempat CPNS dikumpulkan), Gedung E Kemendikbud, lantai 6 Balaikota DKI atau kantor BKD, dan Perum Citra Villa Jalan Arwana Pamulang (rumah HB).

“Pelaku dapat meyakinkan korban, karena mengajak ke kantor Kementerian dan BKD. Di situ bujuk rayunya membuat korban mau memberikan imbalan seperti diminta,” kata Argo yang didampingi Wadir Krimum Ade Ary, Kabag Biro SDM Kemendikbud Agam Bayu.

Uang hasil kejahatan, digunakan untuk foya foya dan nafkah hidup. “Tersangka hobi dugem di Mangga Besar. Di tempat hiburan, HB kerap dipanggil pak bos!” ucap Argo.

Sementara itu, Agam dari Kemendikbud mengimbau, masyarakat agar tidak percaya pada iming-iming yang bisa membantu meloloskan CPNS. Sebab prosedur yang ditempuh untuk proses seleksi serba online dan transparan.

“Dari awal proses seleksi harus melalui internet, semua bisa di akses online tidak ada tatap muka. Semua gratis!” ujar Agam.(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *