Viral Dugaan Mal Praktik Bidan Desa di OKU Selatan, Ini Klarifikasinya…

VIRALNYA berita di media online dan jejaring sosial beberapa waktu lalu terkait dugaan mal praktik yang dilakukan Bidan Praktek Mandiri (BPM) di Desa Kotaway, Kecamatan Buay Pemaca, Kabupaten OKU Selatan, Sumsel terhadap salah satu pasiennya berbuntut panjang.

Terkait hal ini, Bidan Hardiana, Amd, Keb selaku bidan di BPM akhirnya buka suara. Kepada media ini, Hardiana mengaku bahwa administrasi yang ia miliki, mulai dari Surat Tanda Registrasi Bidan (STRB), Surat Izin Praktek Bidan (SIPB) dan Surat Izin Kerja Bidan (SIKB) serta surat izin lainnya sudah lengkapi, sesuai peraturan yang ada.

“Sudah memenuhi standar untuk mendirikan BPM dan saya terdaftar atau di bawah naungan UPTD Rawat Inap Puskesmas Buay Pemaca. Saya kecewa dengan awak media yang menulis pemberitaan tersebut, hanya mendengar keterangan sebelah pihak dimuat di media online tersebut sesuai tuduhan yang mengatakan, “saya melakukan mal praktek”. Itu tidak benar, karena tidak ada konfirmasi dan klarifikasi kepada saya,” kata Hardiana kepada media ini, Rabu (16/9/20).

Kasus ini sendiri mencuat bermula saat Hardiana menolong Desa Kotaway, Kecamatan Buay Pemaca bernama Siti Fatimah yang melahirkan (bersalin-red.) di rumah praktek BPM di Desa Kotaway pada Selasa (8/9/20). Pasien datang ke BPM pada pukul 13:00 Wib dengan keluhan sakit pinggang menjalar ke perut dan mulas keluar lendir darah air ketuban.

Berdasarkan hasil pemeriksaan TTV: TD 110/70 mmhg, N:80x/m,RR:20x/m,S:362°c, kemudian dilakukan pemeriksaan dalam: 2cm, portio tebal, hodgo 11, kontraksi 2 x/10’/15″, djj 140x/m. Saat itu Bidan Hardiana menganjurkan pulang untuk terlebih dahulu. “Kkalau mules bertambah semakin sering dan adanya keluar lendir atau darah yang lebih banyak segera kembali ke BPM,” kata Hardiana.

Kemudian pada pukul 16:00 Wib, Siti Fatimah pun datang kembali ke BPM dengan keluhan mules, sehingga langsung diperiksa melalui alat TTV, setiap per 30 menit. Jam 20:00 Wib, lahirlah seorang bayi berjenis kelamin laki-laki dengan berat badan 2,800 gram dalam keadaan sehat, baik keadaan anak dan ibunya.

“Keesokan harinya, sekitar pukul 08: 00 Wib, bayi tersebut dimandikan dan dibawa pulang oleh keluarga pasien dengan mengendari sepeda motor, dengan jarak tempuh lebih kurang 1000 meter,” ungkap salah seorang kerabat pasien, Untung Pipindra Rabu (16/9/20) kepada media ini.

Pada jam 16:00 Wib, keluarga pasien kembali datang dan memberi kabar kepada sang bidan bahwa bayinya dalam keadaan kurang baik dan jika menangis badannya membiru. “Namun bayi tersebut tidak dibawa. Saya menyampaikan dan mengedukasi agar keluarga membawa bayi ke dokter Zakaria, SP.A. Tapi keluarga menolak dan mereka katakan akan membawa ke dukun bayi saja,” kata Hardiana.

Yang mengejutkan bagi Hardiana, pada Kamis 10 September informasinya bayi itu dibawa ke RSUD Muaradua dan diirnya diminta mengeluarkan surat rujukan Jampersal. “Sebagai rasa tanggung jawab, saya buat dan lengkapi,” ungkapnya.

Lebih mengejutkan lagi, Dr. Ria Yunita di rumah sakit tersebut menanggapi kasus ini pada pemberitaan di salah satu media online. Dalam pemberitaan ia menyebut, kondisi bayi saat ia terima mengalami infeksi tinggi yang berpengaruh ke seluruh saraf otak. “Diperkirakan terjadinya infeksi karena kurang sterilnya peralatan medis saat perawatan bayi di bidan,” kata Dr. Ria.

Anehnya, menanggapi hal tersebut Dr. Ria Yunita mengatakan dirinya tidak pernah memberikan pernyataan sebagaimana yang diberitakan di media online yang tersebar di medsos. Ia hanya menjelaskan, bisa jadi bayi atau pasien terinfeksi yang mungkin dapat disebabkan perawatan tali pusat yang kurang baik.

“Proses infeksi bisa terjadi dimanapun dan kapanpun, bisa jadi perawatan di rumah dan lain-lain,” ungkap Dr. Ria Yunita, dokter di Rumah Sakit Umum Muaradua, sesuai pernyataan pihak rumah sakit tertanggal 14 September 2020 yang ditandatangani Direktur Rumah Sakit Umum Muaradua. SLAMAT BN – OKUS

Cybertroop Polri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ganjar Sebut, Sembilan Daerah di Jateng Jadi Perhatian Khusus Penanganan Covid-19, Kapolda: "Ops Yustisi Penegakan Prokes Bertahap"

Rab Sep 16 , 2020
VIRALNYA berita di media online dan jejaring sosial beberapa waktu lalu terkait dugaan mal praktik yang dilakukan Bidan Praktek Mandiri (BPM) di Desa Kotaway, Kecamatan Buay Pemaca, Kabupaten OKU Selatan, Sumsel terhadap salah satu pasiennya berbuntut panjang. Terkait hal ini, Bidan Hardiana, Amd, Keb selaku bidan di BPM akhirnya buka […]